Sabtu, 12 Desember 2009

Tangan Di Atas

Saat hari ini berkendara, saya melihat banyak pengemis di jalan yang meminta uang kepada pengendara yang sedang jalan. Pengemis saya temui berusia sangat muda ada yang berusia 10 tahun ada juga yang 25 tahunan. Hal ini menyebabkan dilema di dalam hati karena pemerintah propinsi mengeluarkan peraturan daerah di mana member sanksi berupa denda 2 juta untuk masyarakat yang memberikan pengemis uang. Di satu sisi nilai kemanusiaan kita menuntut member mereka uang, dan di sisi lain kita juga menginginkan menaati semua aturan yang ditetapkan pemerintah.

Berbicara tentang pengemis, ada dua sisi konflik yang terjadi saat memberi atau tidak memberi mereka sedekah. Jika memberi mereka sedekah artinya membantu mereka mendalami profesi pengemis dan mengundang pengemis datang ke tempat di mana kita memberikan uang. Jika tidak membantu mereka terlihat kita tidak memiliki nilai kemanusiaan.

Berbeda dengan pengemis, tiga hari yang lalu saya tertakjub dengan seorang tua berusia sekitaran 60-70tahunan yang sedang berjualan mangga dengan menggunakan sepeda ontel nya pada malam hari. Saat itu ia sedang duduk sambil sesekali memejamkan mata nya. Mungkin karena keletihan mengayuh sepedanya (Mode Mind READING ON). Beliau berjuang berjualan hingga malam hari hanya untuk memberikan keluarga nya nafkah dengan tangannya sendiri.

Gambaran kedua hal ini terlihat sangat berbeda. Satu orang menjadi akibat dari orang lain dan yang lainnya menjadi sebab bagi diri nya sendiri. Satu orang memiliki tangan di bawah dan yang lainnya memiliki tangan di atas. Bukankah kita sering menjadi akibat dari lingkungan kita. Satu orang menggantungkan hidupnya pada orang lain dan yang lainnya memutuskan untuk mandiri.

Banyak orang yang memutuskan menggantungkan dirinya kepada orang lain. Sebaga therapist, saya biasa menemukan orang seperti ini yang menggantungkan hidupnya sepenuhnya pada sang therapist. Ia hanya menyerahkan masalahnya kepada Sang Therapist untuk therapist selesaikan padahal yang memiliki dan mempunyai kekuatan menyelesaikan masalah khan dirinya sendiri. Mungkin karena ia tidak mengetahui ia bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri.

Kemandirian bangsa juga menjadi bagian dari diri Jusuf Kalla (Mode Fans is ON) yang selalu menekankan kita untuk menjadi sebuah bangsa yang mandiri. Kemandirian ini dibangun dari individu kita untuk meraih kesuksesan. Salah satu kunci sukses adalah kemandirian. Saat kita memutuskan mandiri, artinya kita memutuskan untuk bertanggung jawab pada diri kita sendiri dan memilih untuk tangan di atas.

Jadi apakah pilihan anda? Tangan Di Atas atau Tangan Di Bawah?


Salam Miracle
Yudhi K Gunawan
The Coach - Trainer - Therapist
+62 81342 99 3939

Certified NLP Master Practitioner dari American Board of NLP
Certified Time Line Therapy(TM) dari TLTA
Certified Hypnosis dari American Hypnosis Association

Tidak ada komentar:

Posting Komentar